Arti Wakaf dan Syarat-Syarat Dalam Menjalankannya

0
12
arti wakaf
arti wakaf

Ceritatentang.com, Istilah wakaf kini sudah menjadi cukup populer di telinga masyaralat Indonesia terutama di kalangan muslim Indonesia. Namun, walau sudah populer kata ini masih belum mengetahui arti sebenarnya dari wakaf. Wakaf masih saja dianggap sama dengan sedekah atau zakat, namun sebenarnya arti wakaf berbeda dengan sedekah dan zakat.

Kata wakaf diambil daro bahasa Arab yaitu وقف‎, [ˈwɑqf] yang memiliki arti menahan atau berhenti, Salah satu istilah dalam syariah Islam. Wakaf diartikan sebagai penahanan atas hak milik materi benda untuk tujuan menyedekahkan manfaat atau hasilnya. Sedangkan ulama memiliki pendapat dalam memberi pengertian wakaf.

Dilansir dari zakat.or.id, ada empat penjelasan akan arti wakaf, yaitu:

1. Hanafiyah

Memiliki pengertian wakaf sebagai menahan materi benda (al-ain) milik wakif dan menyedekahkan atau mewakafkan manfaatnya untuk siapapun yang diinginkan untuk tujuan kebaikan atau kebajikan. (Ibu al-Humam: 6/203).

2. Malikiyah

Ulama ini berpendapat, arti dari wakaf adalah menjadikan manfaat dari suatu benda atau harta yang dimiliki,( walau kepemilikannya dengan cara sewa) untuk diberikan kepada orang yang berhak dengan cara satu akad (Shigat) dengan jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan sang wakif (Dasuqi: 2/187)

3. Syafi’iyah

Beliau mengartikan wakaf sama dengan menahan harta yang bisa memberikan manfaat serta bersifat kekal (al-‘ain) dengan cara memutuskan hak atas pengelolaan yang dimiliki oleh seorang wakif untuk diserahkan kepada Nazhir yang diperbolehkan menurut syariah.  (al-Syarbini:2/376).

4. Hanabilah

Wakaf didefinisikan dengan bahasa yang kebih sederhana, yaitu menahan asal harta berupa tanah yang menyedekahkan manfaat yang dihasilkan. (Ibnu Qudamah:6/185)

arti wakaf berdasarkan ulama dan undang-undang.

Dengan dasar pengertian negara, menurut Undang-undang Wakaf nomor 41 thaun 2004 mengartikan wakaf adalah perbuatan hukum wakif (pihak yang melakukan wakaf) untuk memisahkan dan menyerahkan sebagian harta benda yang dimilikinya untuk dimanfaatkan selamanya atau dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya, guna keperluan ibadah, dan kesejahteraan umum sesuai dengan syariah.

Wakaf dianggap sebagai sedekah jariyah, yaitu menyedekahkan sebagian harta kita untuk kepentingan ummat. Harta yang diwakafkan pun tidak boleh berkurang nilainya, tidak boleh dijual, dan tidak boleh pula diwariskan. Hal ini disebabkan wakaf pada hakikatnya merupakan kegiatan penyerahan kepemilikan harta manusia menjadi milik Allah SWT atas nama ummat.

Wakaf memiliki empat rukun yang harus dipenuhi dalam berwakaf, yaitu :

Pertama, orang yang melakukan wakaf atau berwakaf. Kedua, benda yang diwakafkan. Ketiga adalah orang yang menerima manfaat dari wakaf itu. Keempat, lafadz atau ikrar wakaf.

Tentunya, wakaf memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi agar wakaf dianggap sah. Syarat-syarat dari seorang wakif ada empat yaitu orang yang berwakaf mestilah memiliki secara penuh hartanya, artinya ia merdeka untuk mewakafkan harta kepada siapa yang ia kehendaki. Kedua, ia harus orang berakal. Jika tidak berakal, gila, atau orang mabuk tidak sah. Ketiga, harus baligh atau pubertas. Keempat, pewakaf adalah orang yang mampu bertindak secara hukum (rasyid)

Selain itu harta yang diwakafkan pun tidak sah untuk dipindah hak miliknya, kecuali ia telah memenuhi beberapa persyaratan yang ditentukan. Barang yang diwakafkan itu mestilah barang yang bermanfaat dan bernilai, kedua harta yang diwakafkan itu mestilah diketahui kadarnya. Apabila harta itu tidak diketahui jumlahnya. Harta yang diwakafkan mestilah berdiri sendiri, tidak melekat pada harta lainnya.

Terakhir, orang-orang yang menerima manfaat tentu memiliki syarat tertentu. Berdasarkan kualifikasinya, orang yang menerima wakaf yaitu fakir miskin dan orang yang menerima wakaf mestilah dapat menjadikan wakaf itu untuk kebaikan guna mendekatkan diri kepada Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here